Selasa, 27 Oktober 2009

Dampak Golbalisasi

Kemukakan dampak positif dan negatif globalisasi terhadap Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya?

Dampak Positif terhadap Bidang Ekonomi
• Dulu, pada tahun 1800, 74% penduduk dunia terkategori miskin dan hanya menikmati 44% GDP dunia. Tapi, pada tahun 1995, keadaan bertambah parah. Jumlah penduduk dunia yang terkategori miskin mencapai 80% dan hanya menikmati 20% GDP dunia. Sisanya, 20% penduduk dunia yang kaya menikmati 80% GDP dunia.
• Globalisasi akan berdampak negatif pada suatu nasion bila nasion itu tidak memiliki SDM yang berkualitas. Untuk yang terakhir ini, perlu diakui bahwa Indoneisa belum memilikinya, secara umum.
• pasar bebas yang menjadi salah satu perwujudan globalisasi akan menuntut manusiua yang kreatif, mampu berkreasi, singkatnya, manusia produktif.
• Pada perdagangan, perkembangan industri memungkinkan produsen dalam satu negara tidak lagi membatasi diri dengan membuat suatu produk sendirian, melainkan dapat mengimpor komponen lain yang diperlukan.
• Pada bidang industri dan jasa, setiap negara terbuka untuk membuka peluang sehingga para ahli dapat bekerja di negara lain.


Dampak Negatif terhadap Bidang Ekonomi
• Globalisasi arus informasi dan perkembangan ICT akan membawa angin segar bagi konsumerisme untuk tumbuh subur dalam diri masyarakat Indonesia. Tingkat konsumsi akan meningkat dan produktifitas menurun.
• terjadi tension, masyarakat Indoneisa menjadi semakin tidak mampu memenuhi tuntutan jaman karena sudah teracuni konsumerisme sehingga hanya ahli dalam menkonsumsi. Buktinya, persentasi penemu dan peneliti di Indonesia amat kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk.
• produktifitas dari generasi muda --yang sebenarnya amat diharapkan dapat memulihkan keadaan ekonomi negara-- menurun, negara kesatuan ini akan semakin terpuruk dalam lingkaran setan yang tidak ada habisnya.
• Terjadinya kesenjangan ekonomi akibat dari kekalahan berkompetensi dalam bidang teknologi.
• Negara-negara kuat akan bersekongkol untuk mncari keuntungan sebesar-besarnya.
• Semakin menurun SDA vital seperti air, hujan dan terjadi pencemaran global.


Dampak Positif terhadap Bidang Sosial Budaya
• Globalisasi membawa manusia pada suatu dunia tanpa batas (borderless world) dengan arus informasi supercepat (information superhighway) yang mengglobal. Globalisasi dunia memicu revolusi (bukan evolusi) di bidang ICT (Information and Communication Technology). Singkatnya, globalisasi akan membawa serta globalisasi arus informasi serta akselerasi perkembangan ICT. Globalisasi memaksa manusia untuk dapat beradapatasi dengan globalisasi arus informasi serta akselerasi perkembangan ICT yang berlangsung. Untuk beradaptasi dengan transfromasi yang supercepat ini,
• Globalisasi yang disertai dengan globalisasi arus informasi dan perkembangan ICT akan melahirkan masyarakat yang lebih menghargai kualitas individu
• Dari situ, akan terformat masyarakat kompetitif, artinya, persaingan antar individu akan memuncak. Di satu sisi, persaingan yang ketat semacam ini akan meningkatkan kinerja dan produktifitas manusia. Mereka yang mampu bersaing akan menduduki posisi atas dalam stratum sosial
• Globalisasi arus informasi dan perkembangan ICT akan memperluas wawasan dan relasi dengan adanya sarana-sarana yang memungkinkan mereka memperoleh informasi atau berelasi dengan lebih efisien dan berjangkauan luas
• Pada bidang Sosial-Budaya, karena transportasi manusia dapat bergerak dinamis dalam bermigrasi, meskipun kadang-kadang terjadi benturan budaya.
• Pada bidang lingkungan hidup, LSM semakin kritis dalam menyoroti persoalan lingkungan dalam suatu negara.
• Timbul fanatisme rasial, etnis, dan agama sebagai upaya menunjukkan eksistensinya.


Dampak Negatif terhadap Bidang Sosial Budaya
• Namun, dengan bermodal dari kenyataan bahwa sumber daya manusia muda Indonesia belum cukup baik, resikonya, SDM kita malah menjadi masyarakat frustasi. Hasilnya, adalah bentuk-bentuk kekerasan seperti tawuran, “lukisan” di badan bus dan dinding-dinding.
• Namun, di sisi lain, TV, internet, majalah, koran, VCD, handphone, dsb. yang terus di-up grade itu akan mengantarkan generasi muda dalam mode baru relasi manusia yaitu: virtual relation. Dalam relasi ini, generasi muda berhubungan dengan orang atau gambaran yang secara fisik belum pernah bertemu, atau bahkan mustahil
• Dengan adanya sarana dan fasilitas yang begitu canggih, tidak akan ada dorongan untuk secara langsung terjun ke masyarakat; kemampuan interaksi akan menurun. Yang perlu ditekankan adalah dengan melihat kenyataan saat ini, virtual relation itu akan melemahkan proses sosialiasi generasi muda dalam masyarakat . Buktinya, bentuk-bentuk gotong royong dalam masyarakat kita, terutama generasi muda, menurun jauh bila dibandingkan dengan pada masa-masa sebelumnya.
• Selain berdampak pada bidang sosial, dampak negatifnya juga mengimbas bidang budaya. Bentuk-bentuk sarana dan fasilitas informasi semacam itu akan mempengaruhi pola berindak dan berpikir generasi muda. Contoh yang memperihatinkan adalah masalah budaya membaca; tampaknya generasi muda sekarang sudah terhipnotis dengan layar kaca segi empat sehingga menomorduakan membaca. Kekerasan yang ada terbias dari TV juga akan terhisap oleh pikiran. Ada banyak orangtua yang menyayangkan anaknya menjadi nakal akibat nonton TV.
• Pada sub-bab sebelumnya juga telah dipaparkan mengenai konsumerisme. Sikap konsumeris itu pada akhirnya akan mencapai titik jenuh dalam bentuk quasi religion . Hal-hal duniawi yang semu dan tidak kekal justru dicari dan dinomorsatukan. Sementara itu, justru yang merupakan agama murni ditinggalkan. Materi didewakan, ini akan membuat manusia-manusia yang rakus; homo homini lupus. Ini sering diungkapkan dengan terminologi hedonisme.
• Keadaan yang ada di lingkungan generasi muda sekarang ini akan membawa pada pada homogenitas budaya pop. Gejala ini akan menyeragamkan selera dan simbol, sekaligus juga melarutkan sebaga batas identitas dalam keseragaman yang dangkal dan pragmentaris. Dan corak keseragaman akan ditentukan oleh siapa yang paling kuat , itu artinya negara-negara industri. Akibatnya timbul transformasi budaya yang bercorak revolutif. Pada titik ini, generasi muda akan mengalami alienasi budaya. Alienasi dimaksudkan untuk mengungkapkan suatu persaan terpisah, terpecah dalam arti yang lebih dalam. Jadi, generasi muda Indonesia akan mengalami keterasingan dengan budayanya sendiri. Mereka akan mengalami krisis idenditas yang intensif karena pergeseran budaya yang amat cepat dan tidak disadarinya itu.
• Bila dilihat dari mutu hasil pendidikannya, Indonesia kalah jauh dengan negara-negara Asia lainnya. Ada banyak masalah yang dimiliki oleh generasi muda Indonesia. Konsekuensinya, Indonesia akan berhadapan dengan banyak dampak negatif globalisasi arus informasi dan akselerasi perkembangan ICT.


Dampak Positif terhadap Bidang Politik
• Pada bidang globalisasi, teknologi berkembang pesat. Baik teknologi informasi, komunikasi, maupun transportasi. Sehingga orang dapat berhubungan melewati batas-batas negara.
• Pada bidang politik, Negara berhak atas kedaulatannya, namun Negara-negara lain bisa menuntut sikap transparan, demokrastis, dan menghargai hak asasi manusia.


Dampak Negatif terhadap Bidang Politik

• Dapat melunturkan nilai-nilai Pancasila
• Kebhinekaan Negara kita akan disapu oleh gelombang globalisasi jika tidak memiliki pengikat bhinneka tunggal ika
• Ideologi Pancasila terancam oleh ideologi lain seperti Faham liberalism dan komunisme jika masyarakat tidak berpegang pada ideologi Pancasila.

Hal hal apakah yang harus dilakukan Indonesia untuk menghadapi arus globalisasi terutama dalam pendidikan dan budaya. Uraikan dengan contoh !

Globalisasi telah menghampiri seluruh rakyat di belahan bumi manapun dengan membawa banyak dampak baik positif maupun negatif. Sisi positif dari globalisasi itu berada pada kemajuan teknologi informatika dan teknologi komunikasi. Dampak negatifnya kalau sampai kita hanya menjadi objek suatu arus globalisasi tanpa mampu berbuat. Oleh karenanya perlu banyak persiapan terutama mental guna menghadapi era tersebut. Dalam era tersebut dibutuhkan kemampuan untuk menjaring dan menyaring segala pengaruh yang masuk dari berbagai kebudayaan yang lain.
Pendidikan selama ini dianggap kurang berhasil dalam mempersiapkan anak didiknya untuk memasuki dunia kerja yang telah dirasuki globalisasi dengan neoliberalisme. SDM kita ternyata masih menempati peringkat ke-112 di level internasional.
Kelemahan-kelemahan sistem pendidikan yang mewarnai dunia pendidikan di tanah air kita adalah antara lain :
1. Merebaknya budaya kekerasan di dalam lingkungan pendidikan kita,
Kekerasan itu terjadi dengan mulut yang berakibat penderitaan psikologis maupun tangan dan kaki yang mengakibatkan penderitaan fisik.
2. Lingkungan pendidikan yang senang duwit, sehingga melahirkan output yang mata duitan tetapi tidak bermoral,
Semakin besar biaya pendidikan kita sekarang ini, dengan adanya otonomi sekolah atau kampus. Mahalnya biaya pendidikan ini tentu saja tidak bisa diakses rakyat miskin yang juga betul-betul membutuhkan pendidikan yang bermutu.
3. Ketidakjujuran / kekurangjiwa satrianya para pelaku pendidikan.
Seorang mahasiswa bisa lulus dengan membayar sejumlah uang guna penyelesaian skripsinya. Contek sana sini di sekolah. Orangtua murid menyuap para guru yang memang butuh duit agar nilai anaknya di atas rata-rata.
4. Kurangnya keterkaitan organik antara skill yang dimiliki dengan kebutuhan riel di masyarakat.
5. Pengajaran agama dan moral hanya sebagai ilmu pengetahuan, bukan sebagai tuntunan yang harus diamalkan.
Buktinya sekarang banyak kasus smack down, yang mendekati degradasi moral di kalangan pelaku pendidikan, aborsi di kalangan mahasiswi dan pelajar putri, hamil sebelum nikah, narkoba dan sebagainya.
Oleh karenanya kita perlu memperbaiki model pembelajaran kita di lingkungan pendidikan selevel apapun. Pendidikan holistik harus digiatkan guna menghadapi arus globalisasi. Dalam pendidikan tidak hanya menonjolkan nilai-nilai akademik dan kognitif, tetapi juga meliputi perilaku dan psikomotorik yang menyangkut kreatifitas dan keaktifan.
Kecerdasan otak (Intellegence Quotient) sangat penting bagi anak. Akan tetapi, yang menetukan keberhasilan seseorang itu dipengaruhi oleh faktor kemampuan intelektual dan kemampuan emosional. Dan perlu dilengkapi dengan kecerdasan spiritual. Otak kanan dan otak kiri harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Dengan IQ seorang anak mampu mengembangkan kemampuan ilmiahnya, dengan EQ seorang anak mampu mengendalikan diri, dengan SQ seorang anak mampu mengapresiasikan semua ciptaan Tuhan dan menjaga kelestariannya.
Globalisasi tidak bisa ditolak lagi, yang jelas membutuhkan jiwa ksatria yang utuh mandiri, kreatif inovatif, jujur dan berani membela kebenaran. Langkah-langkah positif guna menyongsong era global :
1. Sekolah/kampus sebagai medan ilmu harus terus melakukan pembaharuan yang berkesinambungan terhadap model pendidikan.
2. Integrasi antar pelajaran (integrated curriculum) baik ilmu murni maupun ilmu praktis, ilmu diniyah dengan ilmu non diniyah. Misalnya pelajaran matematika dipadu dengan moral.
3. Guru-guru/dosen-dosen perlu pembekalan ilmu mendidik yang baik, tidak hanya mengandalkan kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik.
4. Biarkan anak-anak kreatif, berbuat sesuai masanya, tetapi terkendali.
5. Meninggalkan budaya kekerasan, pemaksaan, ketegangan dalam lingkungan pendidikan yang menimbulkan ketakutan dan ketidakpercayaan diri anak-anak.

Senin, 14 September 2009

Kenangan Laskar Sertifikasi Jalur Pendidikan 2007 UNP


Nama : Afnida, S.Pd.
NUPTK : 1544737640300022
NIM : 2007 / 91816
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Negeri 3 Bukittinggi Sumbar
Motto : Berusahalah selalu menggali informasi dan pengetahuan sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat
Kenangan: Pergi ke Bukittinggi, lihat jam gadang dan gua Jepang. Dijaga ya!


Nama : Drs. Anfiandri Amran
NUPTK : 5039745649200023
NIM : 2007 / 91835
Profesi : Guru Penjas
Sekolah : SMP Negeri 5 Bukittinggi Sumbar
Motto : Tiada sukses yang dapat hanya dengan “RATAP TANGIS"
Kenangan: Siap pak ..... !


Nama : Drs. Amran
NUPTK : 2063746648200003
NIM : 2007 / 91822
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Negeri 3 Sungailiat Bangka
Motto : Hidup adalah perjuangan selagi nafas masih ada maka berjuanglah untuk hidup
Kenangan: Ingat ya surat pikatnya jangan digadaikan!


Nama : Drs. Anan Zainal Arifin
NUPTK : 2742741642200042
NIM : 2007 / 91830
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Yayasan Pupuk Kaltim Bontang Kaltim
Motto : Profesi adalah suatu amanah, maka lakukan yang terbaik!
Kenangan: Master ICT menurut para perawi yang siap meladeni demi ilmu, gitu loch.


Nama : Bambang Nata Kusuma, S.Pd.
NUPTK : 2557749652200023
NIM : 2007 / 91821
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Negeri 2 Tanah Jawa Kab. Simalungun Sumut
Motto : Kejujuran adalah kebijaksanaan yang terbaik
Kenangan: Dia datang, saat yang lain mulai ..... Tapi ingat ya, ujian pak profesor.


Nama : Drs. Bustami
NUPTK :
NIM : 2007 / 91836
Profesi : Guru Penjas
Sekolah : SMP Negeri Meral Karimun (KEPRI)
Motto : Sekali berarti, habis itu mati
Kenangan: Tim sukses, dan terbukti coy!


Nama : Dahlia, S.Pd
NUPTK : 2837743644300004
NIM : 2007 / 91815
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Negeri Sijunjung
Motto : Pembelajaran pkn masa mendatang menarik dan di tunggu siswa
Kenangan: Sedikit bicara banyak bekerja.


Nama : Darussalam
NUPTK :
NIM : 2007 / 91840
Profesi : Guru Penjas
Sekolah : SMP Negeri Muara Kulam
Motto : -
Kenangan: Ikuti saja, sekarang Selasa besok kan Rabu.


Nama : Edwar Gunawan, S.Pd.
NUPTK : 4552753655200012
NIM : 2007 / 91847
Profesi : Guru Penjas
Sekolah : SMP Negeri 12 Kota Bengkulu
Motto : Hasbunallahu wa nikmal wakil; Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya” Al-Hadist
Kenangan: Jaga karate, aduh ketahuan!


Nama : Eko Sujarwo, S.Pd.
NUPTK : 4559751653200002
NIM : 2007 / 91818
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Negeri Giriyoso Kec. Jayaloka Musirawas
Motto : Perjuangan dan pengorbanan adalah kata kunci
Kenangan: Utamakan dulu teman, sekalipun menderita.


Nama : Entin, S.Pd
NUPTK : 7339746647300003
NIM : 2007 / 91823
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Negeri 2 Batiknau Bengkulu Utara
Motto : Perbedaan antara orang sukses dan tidak sukses adalah pada pemanfaatan waktunya yang luang
Kenangan: Dia datang ... datang lagi ... dan menang


Nama : Frizon Hazendri, S.Pd
NUPTK : 5835746648200002
NIM : 2007 / 91826
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Negeri 2 Sindang Kelingi
Motto : Hidup adalah perjuangan
Kenangan: Kanapa teman penjas panik ya?


Nama : Hartono, S.Pd.
NUPTK : 2939747650200023
NIM : 2007 / 91831
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Negeri 1 Tamban kab. Batola Kalsel
Motto : Penderitaan hidup adalah mengajarkan kita untuk menghadapi arti hidup.
Kenangan: Ngapain, alaaah pokoke .... walaaaaaaaah


Nama : Muhammad Hasbi, S.Pd.
NUPTK : 1449748652200003
NIM : 2007 / 91844
Profesi : Guru Penjas
Sekolah : SMP Negeri 10 Curup Rejang Lebong Bengkulu
Motto : Mulai dari titik hingga menjagi garis Setiap kegiatan harus ada usaha
Kenangan: Mus ... mus ... !


Nama : Drs. Francis Malau
NUPTK : 2146744645200003
NIM : 2007 / 91841
Profesi : Guru Penjas
Sekolah : SMP Negeri 1 Silima Punggapungga Sumut
Motto : Hidup adalah perubahan selagi diberi waktu silahkan berubah
Kenangan: Danau Toba jangan sampai tercemar!


Nama : Meiri Susanto, S.Pd.
NUPTK : 2852753655200002
NIM : 2007 / 91825
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Negeri 1 Lebong Selatan Bengkulu
Motto : Belajarlah dari sesuatu yang belum diketahui
Kenangan: Pokoke bereeeeeesssss!


Nama : Muji Sirwanto, S.Pd.
NUPTK : 8546749651200002
NIM : 2007 / 91837
Profesi : Guru Penjas
Sekolah : SMP Negeri Padang Panjang Sumbar
Motto : Kalau tidak bisa menjadi beringin yang kokoh, maka jadilah rumput, rumput yang menyubukan tanah disekitarnya.
Kenangan: Ingat di kantor PPL?


Nama : Muslan, S. Pd
NUPTK : 1459749651200012
NIM : 2007 / 91845
Profesi : Guru Penjas
Sekolah : SMP Negeri 1 Selupu Rejang Kab. Rejang Lebong Bengkulu
Motto : -
Kenangan: Perawi 1 master ICT, yang lain perawi 2, 3 ...


Nama : Roni Pazlan, S.Pd.
NUPTK :
NIM : 2007 / 91834
Profesi : Guru Penjas
Sekolah : SMP Negeri 3 Sijunjung Sumbar
Motto : Be your self.
Kenangan: Nggak ada masalah, santai saja!


Nama : Samsuar Sinaga, S.Pd.
NUPTK : 1139747650200043
NIM : 2007 / 91819
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Negeri 1 Hamparan perak Deli Serdang Sumut
Motto : Mulai dari apa adanya, jangan apa yang seharusnya ada, apalagi menjadi ada, atau bahkan mengada-ada.
Kenangan: Mari kembali ke jalan yang benar!


Nama : Siti Zahara Jamil, S.Pd
NUPTK :
NIM : 2007 / 91820
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Negeri 1 Medan
Motto : Hidup hanya sekali dan itu harus berarti
Kenangan: Laptopku kena virus! alaaaaaaah gampang!


Nama : Sugeng Rahajo, S.Pd.
NUPTK :
NIM : 2007 / 91828
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Negeri 18 Kota Benkulu
Motto : Duduk sama rendah berdiri sama tinggi
Kenangan: Dia datang semua ....... bereesss!


Nama : Tamsia
NUPTK : 9563741643300443
NIM : 2007 / 91832
Profesi : Guru Penjas
Sekolah : SMP Negeri 1 Mutiara Beureunuen Aceh Pidie
Motto : Walaupun jauh di mata dekat di hati
Kenangan: Jangan menangis, sudah kering air mataku!


Nama : Yatina, S.Pd
NUPTK : 1947746648300062
NIM : 2007 / 91824
Profesi : Guru PKn
Sekolah : SMP Negeri 1 Ujan Mas Kab. Kepahyang
Motto : -
Kenangan: Tenang .... tenang, hadapi saja!


Nama : Ahmad Zaini, S.Pd.
NUPTK : 4849737639200022
NIM : 2007 / 91838
Profesi : Guru Penjas
Sekolah : SMP Negeri 6 Pariaman Sumbar
Motto : Manis tidak segera ditelan, pahit tidak segera dimuntahkan
Kenangan: Jalan-jalan ke Pariaman, ingat kenangan kita ...!

Senin, 27 April 2009

Masih Perlukah UNAS?

Bapak ibu guru yang kami hormati dan kita banggakan, sudah sekian lama ujian nasional dilaksanakan dan sudah menjadi agenda rutinitas tahunan sekolah.
Hari ini tengah berlangsung UNAS SMP, setelah minggu sebelumnya SMA. Tentu sudah banyak pengalaman bpk ibu guru ttg seluk beluk UNAS, baik dalam proses mempersiapkan peserta didik maupun pelaksanaannya. Apa sesungguhnya yg terjadi berdampak positif atau justru sebaliknya? Perlukah UNAS tetap dipertahankan atau diubah modelnya? Kita memang butuh standar mutu nasional tetapi harus melalui model strategi yang tepat supaya mencapai tujuan dan menghindari seminimal mungkin dampak negatif yg ditimbulkannya, baik bagi sekolah, guru, terutama bagi peserta didik. Silahkan berikan masukan/komentar.

Terimakasih.

Selasa, 14 April 2009

Pengakuan dan Penerimaan Guru terhadap Peserta Didik

Pada saat pembelajaran PKn berlangsung dengan pokok bahasan demokrasi, guru akan menerapkan praktek musyawarah dalam kelas. Sebelum guru menentukan pemimpin siding yang berasal dari siwa, salah satu siswa mengangkat tangan. Mau tanya apa kamu “Amir”? “Ini pak, saya mau mencoba menawarkan diri jadi pimpinan sidang” kata si Amir. Guru mengernyitkan dahinya heran dan tak percaya. “Apa kamu sanggup?” Kata guru. “Coba pak” kata si Amir. “Udahlah Mir kamu jadi pesertanya saja” kata gurunya, “bapak akan memilih sendiri siapa yang pantas memimpin sidang.”. Kemudian si Amir pun diam kecewa dan malu.

Dalam kasus di atas, hal-hal yang tidak sesuai dengan pedagogik:
  • Guru tidak menghormati peserta didik yang dengan sukarela menawarkan diri untuk menjadi pemimpin sidang.
  • Tidak ada dasar pengakuan kepada peserta didik. Pendidik menganggap siswa tertentu tidak mampu. Pendidik tidak memberikan perlakukan yang sama untuk semua siswa (persamaan HAM dan HMM). Sekali pun memang setiap individu berbeda tetapi perlakukan guru harus didasarkan atas persamaan dan penyesuaian.
  • Hubungan antara pendidik dengan peserta didik didasarkan atas alat kekuasaan (dominasi kekuasaan). Perlakukan yang sama kepada setiap peserta didik diabaikan dan guru menunjuk peserta didik yang menurut guru memiliki potensi dan kemampuan. Siswa dituntut menerima saja (patuh) atas kemauan guru.
  • Hubungan antara pendidik dengan peserta didik terutama kedekatan psikologis tidak dibangun oleh guru karena dari pendidik tidak ada pengakuan dan penerimaan yang tulus, terbuka, serta kerelaan memberi dan menerima.

HAL YANG PERLU DILAKUKAN GURU
  • Guru mestinya melakukan hubungan dengan peserta didik atas dasar saling penghormatan dan pengakuan. Jadi jika ada siswa yang memiliki inisiatif mencoba berperan sebagai pemimpin sidang mestinya guru memberikan kesempatan.
  • Pendidik mestinya memberikan pengakuan kepada peserta didik. Pendidik harus menganggap siswa tersebut memiliki potensi, semangat, dan kemampuan untuk melakukannya. Pengakuan ini didasarkan pada konsep bahwa peserta didik memiliki HAM dan HMM yang mesti diperlakukan sama untuk semua anak atas dasar persamaan dan penyesuaian karena setiap individu juga berbeda.
  • Hubungan pendidik dengan peserta didik seharusnya atas dasar dominasi internalisasi bukan dominasi kekuasaan atau karisma. Penerimaan peserta didik terhadap pendidik mestinya secara sukarela, senang, percaya. Oleh karena itu, mestinya setiap peserta didik diberikan kesempatan yang sama. Guru harus mengembangkan pembelajaran secara demokratis bukan otoriter.
  • Hubungan antara pendidik dengan peserta didik, baik kedekatan fisik maupun kedekatan psikologis harus dibangun. Untuk membangunnya dengan cara memberikan pengakuan dan penerimaan yang tulus, terbuka, saling memberi dan menerima antara pendidik dengan setiap peserta didik.
Bacaan
Prayitno (2008), Dasar Teori dan Praktis Pendidikan, Padang: Universitas Negeri Padang.

Jumat, 03 April 2009

Info Seputar Pelaksanaan UNAS SD-SMP-SMA TH. 2008/2009

Informasi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional seputar pelaksanaan Ujian Nasional SD, SMP dan SMA tahun pelajaran 2008/2009.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 82 tentang Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) Untuk Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar Luar Biasa (SD/MI/SDLB) Tahun Pelajaran 2008/2009 dan Prosedur Operasi Standar (POS) UN SD/MI/SDLB
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 78 tentang Ujian Akhir Nasional Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMP/MTS/SMPLB), Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun Pelajaran 2008/2009 dan Prosedur Operasi Standar (POS) UN SMP/MTs/SMPLB
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 77 tentang Ujian Akhir Nasional Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) Tahun Pelajaran 2008/2009 dan Prosedur Operasi Standar (POS) UN SMA/MA

Selasa, 17 Maret 2009

Konformitas dalam Pendidikan: Contoh kasus

Dalam hubungan pendidikan, konformitas terjadi pada peserta didik sebagai hasil pengaruh dari pendidik. Peserta didik si satu pihak sebagai orang yang dipengaruhi dan di pendidik di pihak lain sebagai orang yang mempengaruhi. Dengan demikian, konformitas ini penting artinya dalam proses pendidikan karena peserta didik perlu berkonformitas terhadap pendidik yang mempengaruhinya. Pendidikan sangat berkepentingan agar peserta didik mau berkonformitas terhadap pendidiknya karena tanpa konformitas tidak mungkin akan terjadi proses pendidikan. Tipe-tipe konformitas apa yang terjadi pada peserta didik terhadap pendidiknya bergantung kepada pendidik itu sendiri dan proses pembelajaran, apakah tipe konformitas “Membabi Buta”, konformitas “Identifikasi” atau konformitas “Internalisasi”?

Menurut Prayitno(2008), ada tiga tipe konformitas, yaitu konformitas membabi buta, konformitas identifikasi, dan konformitas internalisasi. Secara garis besar ketiga konformitas adalah sebagai berikut:

Konformitas Membabi buta

  • Pendidik memposisikan diri sebagai penguasa yang memberikan sanksi, mengancam dan menghukum peserta apabila melanggar aturan atau tidak mengikuti kehendak guru.
  • Memberikan imbalan / hadiah semata-mata untuk membina kepatuhan peserta didik
  • Situasi pendidikan yang tercipta adalah situasi otoriter yang membentuk manusia dengan pribadi pasrah, patuh, penurut, dan takluk kepada penguasa (pendidik). Mengasingkan orang-orang yang kreatif, berpendirian dan mandiri

Konformitas Identifikasi

  • Pendidik yang kharismatik memungkinkan tercipta suasana pendidikan yang diterima oleh peserta didik. Mereka senang, merasa diterima dan diayomi dan hubungan keduanya dapat makin dekat.
  • Pendidik kharismatik menanamkan kebenaran, ilmu dan pengetahuan, dan lain sebagainya kepada peserta didik
  • Situasi pendidikan yang tercipta membius peserta didik ke arah genggaman erat pendidik yang bisa menghambat kedirian dan kemandirian peserta didik.

Konformitas Internalisasi

  • Pendidik bersifat humanis-demokratik menekankan konformitas internalisasi bagi peserta didiknya.
  • Pendidikan mendorong berkembangnya kemampuan yang ada pada diri peserta didik. Situasi pendidikan mendorong dan menyerahkan kesempatan pengembangan kedirian peserta didik kepada peserta didik sendiri. Pengembangan kebebasan disertai dengan pertimbangan rasional, perasaan, nilai dan sikap, ketrampilan dan pengalaman diri peserta didik

Kasus
Seorang guru menetapkan disiplin masuk kelas kepada siswanya sebagai berikut: Jika murid terlambat lima menit, maka si murid dilarang masuk dan jika dia yang terlambat, maka dia yang tidak masuk kelas. Beberapa Minggu berlangsung dengan baik, tetapi suatu ketika di salah satu kelas terjadi tragedi. Ketika guru itu sudah masuk kelas, murid-murid masih belum ada yang masuk. Waktu lima menit pun telah lewat dan akhirnya ketika murid masuk, semua kena marah dan guru pun berlalu keluar kelas dengan nada kesal. Minggu berikutnya guru tidak mau masuk kelas dan murid-murid pun tidak peduli. Sang guru pun semakin marah dan dia bersikeras untuk tidak mau mengajar lagi di kelas itu. Kepala sekolah turun tangan membujuk agar mau masuk kelas lagi, tetapi gagal sang guru bersikeras bertahan dengan pendiriannya, Akhirnya murid-murid kelas itu tidak mendapatkan pelajaran selama enam bulan dan mereka belajar sendiri.

Analisis kasus

  • Kasus ini mengarah kepada konformitas membabi buta. Siswa oleh guru dituntut untuk disiplin ketika masuk kelas saat mata pelajarannya, dengan cara menetapkan secara paksa aturan tersebut. Guru memposisikan sebagai penguasa yang harus dipatuhi, Dia dapat memperlakukan peserta didiknya sesuai keinginanya.
  • Situasi pendidikan pun akhirnya tidak terlaksana karena sang guru menghukum peserta didiknya dengan tidak masuk kelas itu lagi selama berbulan-bulan. Hal ini jelas sangat merugikan siswa, sehingga tidak ada hubungan lagi antara pendidik, peserta didik, tujuan pendidikan dalam proses pembelajaran.
  • Konformitas membabi buta lainnya yang mungkin terjadi, antara lain:
    • Peraturan tata tertib sekolah disertai sanksinya, mulai sanksi ringan, skorsing, hingga dikeluarkan dari sekolah.
    • Peserta didik dituntut untuk rajin belajar, mengerjakan tugas-tugas, mengikuti tata tertib kelas, tidak menyontek, dan sebagainya yang apabila melanggarnya/tidak mengindahkannya siswa tersebut dianggap tidak patuh kepada aturan atau pendidik.
    • Untuk meningkatkan kepatuhan peserta didik, sekolah memberikan imbalan/hadiah misalnya kepada kelas yang yang paling bersih melalui perlombaan, melakukan razia tas, rambut dan lainnya disertai sanksi.
    • Peserta didik kelas IX dipaksa untuk mengikuti program persiapan UN demi untuk mengejar prestasi dan prestise sekolah, sekali pun mengorbankan kepentingan peserta didik.
    • Sekolah memperketat kenaikan kelas VII dan VIII semata-mata untuk mengurangi jumlah siswa yang tidak lulus UN. Dan yang kemungkinan terancam tidak naik kelas ditawari untuk pindah sekolah.

Keharusan Guru sebagai Pendidik

Berkaitan dengan kasus di atas, yang seyogyanya dilakukan guru sebagai pendidik:

  • Konformitas yang harus ditegakkan adalah konformitas internalisasi. Seharusnya pendidik tidak menetapkan disiplin kaku seperti ini. Jika guru memiliki keteladanan dalam kedisiplinan, itu sudah cukup memberikan pengaruh positif kepada peserta didik untuk disiplin. Kalau ada siswa yang terlambat, pendidik dapat memberikan Tindakan Tegas yang Mendidik
  • Tugas guru mestinya menciptakan situasi pendidikan yang didasarkan pada hubungan ketiga komponen pendidik, peserta didik, tujuan pendidikan dalam proses pembelajaran yang penuh dengan muatan HMM.
  • Perlakuan pendidik yang seharusnya humanis-demokratis, yaitu memperlakukan peserta didik sesuai konsep HAM dan HMM. Oleh karena itu pendidik harus menciptakan situasi pendidikan yang dapat mendorong dan menyerahkan kesempatan pengembangan kedirian peserta didik kepada peserta didik sendiri. Kalau ini yang dipraktikan, maka konformitas internalisasi dapat diwujudkan.

Daftar Bacaan

Prayitno (2008), Dasar Teori dan Praktis Pendidikan, Padang: Universitas Negeri Padang.

Guru Killer: menciptakan situasi pendidikan?

Guru killer. Tahukah siapa guru killer? Mereka pembunuh, mengapa? Mereka mematikan potensi anak.

Situasi yang diciptakan Guru Killer
  • Relasi antara pendidik dengan peserta didik memang merupakan prasyarat terjadinya situasi pendidikan, tetapi hubungan itu tidak menjamin kepastian tumbuh-kembangnya situasi pendidikan. Pada banyak kasus dapat diketahui bahwa hubungan yang terjadi antara pendidik dengan peserta didik dapat menimbulkan situasi yang bertentangan dengan makna dan tujuan pendidikan, antara lain: pelecehan, penghinaan, persaingan, penghisapan, permusuhan, dan sebagainya
  • Perlakukan pendidik terhadap peserta didik bertentangan dengan konsep HAM dan HMM. Apa yang dilakukannya malah dapat membunuh atau mematikan potensi peserta didik, seperti:
    • Pendidik memberikan “cap” atau “label” kepada peserta didik, seperti: tolol, bodoh, ndablek, bloon, dasar bego, nakal, dan lainnya.
    • Pendidik/sekolah, misalnya membagi kelas pintar, kelas sedang, dan kelas bodoh untuk mempermudah pemberian perlakukan kepada peserta didik.
    • Pendidik kurang menghargai gagasan-gagasan peserta didik.
    • Pendidik menekankan pada hasil daripada proses
    • Pendidik menciptakan lingkungan yang kurang bersahabat, penuh ancaman, dan suasana tidak menyenangkan.
    • Pendidik memaksakan pendapat, pandangan, atau nilai-nilai tertentu kepada anak
    • Pendidik mengeksplorasi segi-segi kelemahan yang dimiliki anak.

Kajian Teoritis

  • Situasi pendidikan adalah kegiatan pendidikan yang berlangsung dalam hubungan pendidikan. Kegiatan pendidikan yang terlaksana dalam situasi pendidikan merupakan peristiwa yang istimewa dan unik untuk kepentingan peserta didik yang sedang mengembangkan dirinya.
  • Pendidik memandang dan memperlakukan peserta didik sebagai manusia berderajat paling tinggi dan paling mulia di antara makhluk-makhluk lainnya dengan HMM dan HAM yang penuh. Meskipun individu yang satu berbeda dengan individu yang lain.
    Situasi pendidikan mengandung komponen peserta didik, pendidik, tujuan pendidikan, dan proses pembelajaran. Keempat komponen itu sarat dengan unsur HMM dengan kandungan hakekat manusia, lima dimensi kemanusiaan, dan pancadaya.
  • Proses pembelajaran dengan perangkat pendidikannya merupakan landasan atau wahana dengan muatan pendidikan yang terselenggarakan demi pengembangan secara utuh hakikat menusia dengan kelima dimensi kemanusiaan dan pancadaya peserta didik. Perangkat pendidikn tersebut didasarkan pada dua pilar yaitu kewibawaan dan kewiyataan.
    (Prof. Prayitno, 2008)

Situasi Pendidikan yang seharusnya

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka situasi yang seharusnya diciptakan guru adalah situasi pendidikan sebagai berikut:

  • Kegiatan pendidikan yang terlaksana dalam situasi pendidikan seharusnya merupakan peristiwa yang istimewa dan unik untuk kepentingan peserta didik yang sedang mengembangkan dirinya.
  • Perlakukan pendidik yang seharusnya yaitu memperlakukan peserta didik sesuai konsep HAM dan HMM (Harkat dan martabat manusia). Beberapa perlakuan yang dapat menumbuhkan potensi peserta didik mencapai kedirian dan kemandiriannya:
    • Berusaha untuk tidak memberikan label kepada peserta didik.
    • Pembagian kelas berdasarkan pengelompokkan kelas pintar, sedang, dan bodoh harus dihindari. Pembagian kelas diusahakan normal untuk setiap kelasnya.
    • Pendidik berusaha tidak memberikan hukumaan atau celaan terhadap gagasan atau ide baru yang dirasa aneh dari siswa. Gagasan peserta didik harus dihargai bahkan diberikan kesempatan untuk mewujudkan gagasan-gasannya.
    • Pendidik harus melihat keberhasilan pendidikan baik ari hasil maupun proses pembelajaran
    • Pendidik menciptakan lingkungan yang bersahabat, bebas, dan suasana yang lebih menyenangkan.
    • Pendidik tidak memaksakan pendapat, pandangan, atau nilai-nilai tertentu. Bahkan pendidik menciptakan pelayanan pembelajaran yang menjadikan siswa merasa bebas mengemukakan fikiran dan pendapat.
    • Pendidik berusaha mengeksplorasi segi-segi positif yang dimiliki anak dan bukan sebaliknya mencari-cari kelemahan anak.
Daftar Bacaan
Prayitno (2008), Dasar Teori dan Praktis Pendidikan, Padang: Universitas Negeri Padang.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.